Minggu, 17 November 2013

Jodoh part 1

Dalam sebuah buku, seorang penulis mengatakan bahwa “Jodoh itu ditangan tuhan dan selamanya akan ditangan selagi kita tak mengambilnya.” Benarkah itu? Lalu apa yang harus fulan lakukan sementara fulan ini adalah seorang wanita. Apakah dia harus mengutarakan dan mendekati langsung kepada sang pujaan hati?
Idealnya keinginan setiap wanita, pasti inginnya didekati dan wanita itu tinggal memilih pria yang ia suka. Tapi proses menunggu sampai masa memilih itu datang tentu memerlukan kesabaran yang luar biasa. Terkadang ada yang mendekati namun kita merasa kurang cocok dengan pria itu. Dan akhirnya “sendiri” menjadi keputusan terbaik. Sering kali orang mencibir kaku, “janganlah terlalu memilih jadi wanita. Pilih saja yang hampir mendekati kamu suka. Terlalu pilih-pilih nanti jadi perawan tua dan tak laku.” Fulan bukannya pemilih tapi dia hanya ingin menunggu saat yang tepat dipertemukan dengan seseorang yang memang benar-benar pujaan hatinya. Seseorang yang bisa membuatnya nyaman dan memiliki visi hidup yang sama dengannya. Sulit memang mencari seseorang yang memiliki kriteria yang dia inginkan tapi dia percaya pada janji allah bahwa jodoh yang akan dia dapatkan merupakan cerminan dari dirinya. Oleh karena itu dalam “masa menunggu”nya itu fulan tidak hanya sekedar menunggu tetapi juga memantaskan diri untuk mendapatkan pria yang diidamkannya.


Ketika jodoh yang dinginkan tak kunjung datang kegelisahan mulai timbul dan akhirnya bersuudzon kepada sang maha pembolak-balik hati. “kapankah datang jodoh saya ya allah?” Dalam lubuk hati fulan yang paling dalam, dia yakin allah telah merencakannya pertemuannya dengan sang jodoh di waktu dan tempat yang tepat mungkin saat ini hanyalah belum waktunya. Hanya masalah waktu jadi biarlah sang pemilik waktu yang akan menjawab semua keraguan fulan.

Atau mungkin saja kita sudah bertemu dengan orang yang sesuai dengan criteria kita. Misalnya dia baik, soleh, tutur kata yang sopan dan lembut, suka menulis dan membaca buku tapi jika allah belum berkehendak ya apa mau dikata. Kita serahkan saja semuanya pada allah. Tak usah berkecil hati jika saat ini kau masih sendiri karena allah tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Janganlah kita berprasangka buruk terhadap ketentuan allah. orang yang sedang dilanda kegeeraan itu biasanya dia akan merangkai kisah yang dia buat sendiri padahal kenyataannya tidak seperti apa yang dia bayangkan. Serahkan semuanya kepada allah, maka hati kita akan terpelihara dan terjaga dari rasa kecewa.

Dalam “dream and pray” penulisnya mengungkapan seperti ini dalam masa penantiannya,
Ya allah aku sangat yakin bahwa janjimu adalah benar., bahwa rencana-Mu lah yang terbaik. Jika dia jodohku, jaga dia dalam kebaikan, dan pertemukan kembali di waktu yang tepat untuk bersatu. Jika dia bukan jodohku, aku yakin kau telah mempersiapkan seseorang yang lebih baik untukku”.

Minggu, 27 Oktober 2013

Karyawan baru


Selamat siang. Selamat datang di dunia industri. Itulah ungkapan yang ingin saya katakan kepada seluruh dunia. Saat ini status saya bukan lagi mahasiswa tetapi karyawan. Menjadi karyawan di sebuah perusahaan jepang merupakan impian saya sejak lama.
Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah yang maha kuasa yang telah memberikan kemudahan melalui tangan-tangan-Nya untuk saya. Masih terngiang di benak saya ketika saya menangis pilu karena tidak lulus ujian beasiswa ditambah lagi ujian mental saat mengerjakan skripsi, terutama skripsi. Saya ingat sekali, hampir setiap malam saya tidak bisa tidur  dengan tenang, hati saya gelisah, sering uring-uringan, nyaris seperti orang stress. Seusai shalat saya selalu berdoa semoga ujian ini cepat berakhir. Saya sudah tidak tahan rasanya ingin menyerah. Dosen pembimbing yang galak, judul skripsi yang bikin kelenger, dan batas waktu pengerjaan yang semakin hari semakin berkurang. Di luar beberapa alasan itu, saya ingin uang SPP saya kembali. Dan allah mengabulkan doa saya, semua itu berakhir sejak tanggal 30 Agustus 2013.
Saya sama sekali tidak menyangka bisa ikut ujian sidang saat itu. Bahkan saya merasa kalau skripsi yang saya buat itu benar-benar abstrak terlebih lagi saat saya menjawab pertanyaan dosen penguji terlihat sekali bahwa saya sendiri tidak paham apa tujuan saya menulis skripsi tentang itu. Dari awal saya memang tidak mengerti rumusan masalah, tujuan dan manfaat dari skripsi yang saya buat. Dan sampai saya akhirnya luluspun, saya tidak bisa menjawab hal itu. Tapi yasudahlah! Itu semua sudah berlalu tak perlu menjadi dibahas lebih jauh lagi.
Lepas dari kisah skripsi. Sekarang saya mulai melanjutkan kembali kisah perjalanan saya selanjutnya. Suatu kisah perjalanan yang baru bagi saya. setelah dinyatakan lulus dan diterima bekerja di sebuah perusahaan jepang.
Sudah sebulan lamanya saya merasakan apa sesuatu yang namanya bekerja. Sebenarnya sampai detik ini saat saya menulispun saya belum 100% bekerja. Status saya di perusahaan masih training di departemen HRD&GA. Dan tahukah kamu rutinitas yang harus jalani saya setiap hari. Begitu flat dan membosankan. Saat ini saya sedang belajar ISO 14001 dan 5S. saya tidak belajar sendiri, ada guru yang mengajari saya.. Namanya pak joko dan pak susanto.jadi bisa dibilang pekerjaan saya setiap hari adalah mengerjar pak joko dan pak susanto. Begitu sibuknya beliau-beliau ini sehingga saya juga harus berperan aktif untuk meminta waktu kepada guru-guru super yang satu ini. Bagaimana tidak dikatakan super, mereka harus mengajari saya yang super lemot ini.Bayangkan saja selama hampir sebulan saya terus-terusan belajar ISO 14001.Tapi Alhamdulillah allah masih memberikan kesempatan saya menjadi penerjemah. Terkadang saya membantu departemen marketing dan QC untuk menerjemahkan.
Diantara jam kerja itu ada waktu dimana saya merasa bersemangat mengerjakannya. Betatpapun saya merasa ngantuk karena kurang tidur, betapapun saya merasa lelah dan bosan dengan rutinitas, semua perasaan seperti itu sirna dalam sekejap dan memunculkan rasa semangat baru yang berkobar-kobar yanga membakar jiwa.
Yaitu belajar bahasa jepang bersama yagihashi san dan Fujii san
 

Jumat, 04 Oktober 2013

LULUS INTERVIEW



Mungkin tulisan ini adalah akhir dari kisah perjalanan saya sebagai fresh graduate karena sekarang saya telah menemukan apa yang saya cari dan saya inginkan. Saat ini saya sudah diterima sebagai interpreter di salah satu perusahaan Jepang di kawasan Jababeka II.
Apa yang saya dapatkan sekarang tidak lepas dari ketegasan dan kebijakan saya dalam mengambil keputusan. Seperti yang telah saya sampaikan di tulisan sebelumnya bahwa ketika mengikuti training call center (CC) saya mendapat telepon untuk mengikuti interview. Karena jadwal training dan interview perusahaan bentrok maka saya harus melepaskan salah satu. Saya lebih rela melepaskan training CC dibanding harus melewatkan kesempatan mengikuti interview sebagai interpreter di perusahaan jepang. Saya mengambil keputusan ini dengan segala konsekuensinya. Maksudnya, lolos interview tentu saja itu yang saya harapkan tapi jika kenyataan berkata lain, misalnya saya tidak lolos maka secara otomatis saya kehilangan keduanya. Tidak hadir dalam tahapan training itu sama artinya dengan mengundurkan diri. Belakangan saya tahu bahwa gaji untuk CC garuda bahasa asing adalah 3 juta. Angka yang cukup lumayan dibandingkan kabar gaji yang kami dengar sebelumnya. Tetapi hal tersebut sama sekali tidak menggoyahkan keputusan saya untuk mengundurkan diri.
Dan hari interview pun tiba. Saya tiba di perusahaan pukul 07.30. Saya datang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Petugas satpam memberitahu saya untuk menunggu di kantin dan memberikan lembar formulir yang harus saya isi. Formulir tersebut berisi data-data yang harus saya isi sama persis seperti CV dan beberapa pertanyaan yang sering diajukan saat diinterview, salah satunya, “Berapa gaji yang anda inginkan?” maka saya menuliskan “Rp 4.000.000.
Oh, iya! Pada saat sedang asyik mengisi formulir seseorang menghampiri saya dan berkata, “Mbak, interview juga?” Rupanya yang ikut interview sebagai interpreter tidak hanya saya. Ada juga orang lain namanya Faizal, asal garut. Sedikit bercerita mengenai faizal san. Faizal ini sebelumnya pernah bekerja di perusahaan jepang dan beliau juga pernah ke jepang sebagai kenshuusei. Hanya saja dia bukan lulusan bahasa jepang namun dia pernah mengikuti semacam pelatihan dan kursus bahasa jepang. Salah satu alasan saya menulis gaji 4 juta karena faizal san memberitahu saya bahwa gaji seorang interpreter yang memiliki seritifikat N2 memiliki kisaran gaji sekitar 9-16 juta. WOW, angka yang fantastis! Tapi apakah saya berhak mendapat gaji dengan kisaran angka diatas? Saya rasa belum saatnya. Saya sendiri sadar akan kemampuan bahasa jepang dan saya ini seorang fresh graduate. Itu berarti saya belum memiliki pengetahuan bahasa jepang seperti apa yang digunakan di perusahaan. Niat saya melamar pekerjaan adalah murni untuk mencari pengalaman dan meningkatkan kemampuan bahasa Jepang. Menurut saya gaji besar itu hanyalah masalah waktu. Toh, kalau memang sudah rezekinya tidak akan kemana. Hal yang terpenting yang harus segera saya sadari adalah bekerja sebaik mungkin dan tidak mengeluh atas pekerjaan yang saya dapatkan.
Setelah setengah jam menunggu, nama saya dipanggil untuk interview. Belakangan saya tahu bahwa beliau bernama pak susanto. Interview dengan pak susanto berjalan seperti  interview pada umumnya. Pak susanto menjelaskan bahwa tugas sebagai interpreter tidak hanya menerjemahkan saja tetapi juga ikut terlibat dalam produksi seperti mengurus dokumen dan sejenisnya. Selanjutnya, saya diinterview oleh pak Hendi, beliau ini orang bandung. Beliau menjelaskan bahwa bagian marketing juga membutuhkan interpreter. Ketika mendengar nama marketing maka yang terbayang adalah menawarkan sejumlah produk kepada konsumen. Namun marketing disini adalah marketing business to business. Jadi tugasnya tidak bisa dikatakan sebagai interpreter tetapi lebih ke mengkomunikasikan permintaan via email, telpon, teleconference dari pihak jepang ke seluruh staff yang terkait lalu selanjutnya diadakan meeting.
Dan saya harus kembali menunggu untuk interview selanjutnya karena sang interviewer belum datang. Ini adalah interview terakhir yang harus saya jalani bisa dikatakan sebagai penentu apakah saya diterima di perusahaan ini atau tidak. Setelah beberapa menit pak susanto menyuruh saya untuk menunggu di lobby. Sekitar 5 menit menunggu, pak susanto menyuruh saya untuk masuk ruangan dan disana saya harus menunggu lagi. Disela-sela menunggu saya menyempatkan untuk berlatih bagaimana posisi duduk , bentuk bibir ketika senyum,  dll. Sebelumnya saya telah belajar dari youtube mengenai interview dihadapan orang jepang. Tapi kenyataannya apa yang saya pelajari tidak sama sekali tidak dipakai pada saat interview.
Kemudian seseorang masuk dan tersenyum kepada saya. Inilah interview terakhir yang membuat jantung saya berdetak seperti orang yang lari marathon tapi saya berusaha bersikap tenang dan menyunggingkan senyuman termanis saya. Beliau melihat formulir yang telah saya isi berikut CV yang saya kirimkan via email yang telah dicetak. Lalu beliau meminta saya untuk berbicara mengenai apapun tentang diri saya dalam waktu 3 menit. “Saya ingin mengetahui kemampuan anda” katanya.
Sebenarnya saya agak bingung saya harus bicara apa. Semalam pun saya tidak begitu mempersiapkan interview ini dengan matang. Dengan penuh percaya diri mulai memperkenalkan diri saya dalam bahasa Jepang. Saya berbicara mengenai apapun menyangkut diri saya termasuk pengalaman yang pernah saya alami yang saya rasa bisa menambah poin plus pada jikoshoukai (perkenalan) saya.
Saya menceritakan, dulu ketika kelas 3 SMA ada acara festival kebudayaan jepang yang diadakan oleh dosen dari UPI. Namanya Juju sensei. Di sana ada orang jepang yang bernama Yamamoto dari shizouka. Saya tahu bahasa jepang saya pas-pasan malah bisa dibilang sangat kurang. Tapi saya ingin sekali berbicara dalam bahasa jepang kepada orang jepang. Maka saya memutuskan untuk bertanya kesan yamamoto san tentang subang, “Subang wa dou desuka”. Kemudian dengan ramah, yamamoto san menjawab pertanyaan saya. begitu panjang. Saya tidak mengerti apa yang beliau katakana namun dengan pedenya saya menjawaba “sou desuka”. Padahal saya tidak mengerti apa yang beliau katakan. Yagihashi san tampak antusias mendengar cerita saya bahkan beliau tertawa. Selanjutnya saya bercerita bahwa saya suka belajar investasi. Nah, dari situ obrolan kami semakin mengalir bahkan beliau mengatakan bahwa saya harus bekerja di perusahaan ini, “anda potensial dan smart” dan anda LULUS.
Secepat itukah? Saya kira lulus tidaknya saya akan diberitahukan oleh pihak HRD pada hari berikutnya. Begitu mendengar kata lulus, saya mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kemudian saya harus menemui pak susanto kembali untuk membicarakan kontrak kerja berikut gaji dan tunjangannya. Dan pada hari itu juga saya langsung medical check up, yang tentunya dibayar oleh perusahaan.

Senin, 16 September 2013

Cerita Saat Training Call center

        Setelah tes psikotes yang membuat kepala saya stress, jumat malam sekitar pukul 20.00 pihak PT infomedia kembali menghubungi saya. Kali ini isi smsnya adalah pemberitahuan untuk mengikuti training. Kemudian saya segera mengkonsultasikan hal ini dengan orang tua saya. Perkiraan lamanya training adalah 20-25 hari , itu berarti saya harus melepaskan pekerjaannya sebagai guru honorer. Ada perasaan sedih dan merasa tidak bertanggung jawab ketika harus mengambil keputusan ini. Sedih karena saya belum sempat berpamitan kepada mereka bersama staff guru. Merasa tidak bertanggung jawab karena seharusnya saya menyelesaikan tugas sebagai guru pengganti itu sampai akhir oktober.Tapi sekali lagi, saya pikir ini adalah kesempatan. Kapan lagi sebuah perusahaan mau memberikan kesempatan kepada saya? 

          Keesokan harinya saya pergi ke bandung dengan membawa tas, koper dan skripsi yang harus saya serahkan ke kampus. Kenapa saya membawa koper? Berhubung trainingnya 15 hari maka saya harus menyiapkan berbagai kostum style office. Singkat cerita saya bertemu teman-teman yang sama-sama mengikuti training. Disana juga ada wawan dan elis, kenalan saya saat psikotes.

           Jadwal trainingnya agak molor dari jam yang telah ditentukan sehingga kami harus menunggu. Seperti wanita pada umumnya, jika ada waktu luang dan kesempatan beberapa wanita berkumpul maka sudah dipastikan akan ada acara gosip-menggosip. Sebenarnya bukan gosip sih, tapi kami merasa bimbang dengan ketidakjelasan akan info salary yang kami terima. Kami berusaha mencari info dan bertukar pikiran, buah dari pemikiran itu semakin membuat kami galau untuk melanjutkan ini atau tidak? Tapi kita lihat saja nanti bagaimana trainingnya. 


          Training pun dimulai kami diberikan beberapa yell-yell penyemangat. Materi training hari ini lebih ke softskill, mungkin akan begitu seterusnya selama 5 hari kedepan. Kabarnya setelah 5 hari training akan diberlakukan sistem gugur. Sejauh pengetahuan saya, training kerja dilaksanakan setelah interview HR, user, psikotes dan sebagai tanda bahwa orang tersebut diterima bekerja di perusahaan. Berbeda dengan training pada umumnya, di perusahaan outsourcing ini , ada beberapa tahapan yang harus dilewati untuk diterima sebagai karyawan yaitu, Interview  HR, Psikotes, interview user dan terakhir training.Jadi, training ini tidak dibayar oleh perusahaan. Namun, muncul juga kabar bahwa gaji saat training akan dibayarkan pada bulan ketiga sebesar 200.000. Entahlah lah!! Sedangkan gaji perbulan yang kami terima 1.800.00 dengan rincian gaji pokok 1.500.000 ditambah bonus 300.000 . Selain itu, jenjang karirnya lumayan lambat. Namun kisaran gaji tersebut merupakan gaji seorang call center domestik. Jika bahasa inggrisnya lancar akan ditempatkan di first class dengan estimasi gaji di atas 3 juta. Masalah gaji merupakan masalah yang sensitif, selalu membahas mengenai gaji bukan berarti saya matre. Saya hanya mencoba berpikir lebih realistis. Saya kos di bandung. Itu pertimbangan utamanya. Belum lagi pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

      Disaat saya sedang bingung mau melanjutkan training ini atau tidak HP saya berbunyi dan no yang muncul di layar HP adalah nomor telepon dari jakarta. Betapa senangnya hati saya. Dengan perasaan sumringah saya mengangkat telepon itu dan benar saja, itu telpon dari perusahaan recruitmen yang saya kirimi CV. Saya di wawancara menggunakan bahasa jepang. Setelah itu saya diharuskan untuk mengikuti tes bahasa Jepang. Lebih mengejutkan lagi, saat training sedang berlangsung lagi-lagi ada telpon dari nomor jakarta. Telpon pertama tidak bisa saya angkat, kemudian beliau menelpon lagi. Ternyata beliau adalah Pak susanto dari PT DMC TI. Beliau mengatakan akan mengkonfirmasi lagi untuk teknis interview.

       Apakah ini jawaban atas keraguan saya? Mungkin Allah ingin menunjukkan kepada saya sesuatu. Saya masih ingat sekali betapa kecewanya perasaan ini ketika mengetahui saya tidak mendapat pemberitahuan untuk mengikuti psikotes hari kamis sedangkan teman-teman saya dapat smsnya. Tapi kemudian, saya mendapat sms hari jumat untuk mengikuti psikotes hari sabtu. Selanjutnya saya mengikuti training. Pada saat training itulah keraguan saya semakin bertambah padahal sebelumnya saya sangat ingin sekali diterima bekerja disini. Namun, keraguan itu berakhir ketika ada telepon dari jakarta.

       I'm quick learner who learns from past mistakes. Tapi saya menganggap kejadian ini bukanlah suatu kegagalan ataupun kesalahan. Ini merupakan suatu pengalaman yang luar biasa mengawali karir saya sebagai fresh graduate. Jika saya tidak mengikuti tahapan demi tahapan di perusahaan ini mungkin saya tidak tahu bagaimana rasasnya interview HRD, psikotes pauli kraepelin dan berkenalan dengan peserta lain saling bertukar pengalaman menjadi fresh graduate. Selain itu, saya juga belajar satu hal bahwa deretan nilai yang saya dapat di kampus itu tidak ada artinya ketika masuk sebuah perusahaan. "Anda bisa nya apa? Apa kontribusi anda untuk perusahaan?" Sangat disayangkan jika waktu kuliah dilalui begitu saja.
        






        

Sabtu, 14 September 2013

SMS yang tak pernah disangka

         Selamat siang.. kami dari PT Infomedia mengundang anda untuk mengikuti tahap seleksi berikutnya sebagai agent call center garuda yakni psikotes. Pada hari sabtu, 14 september 2013. Pukul 09.00 di gedung infomedia jalan Malabar 37.
 
 Itulah sms yang saya terima tanggal 13 september 2013 pukul 11.39 ketika saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah seusai mengajar di SMA. Ada perasaan senang namun bingung yang menggelayuti pikiran saya. Karena esok hari tentunya saya ada kelas dan harus mengajar dua kelas. Tapi saya juga tidak mungkin mengabaikan tawaran ini. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke bandung esok harinya dan memberi anak-anak tugas sebagai pengganti ketidakhadiran saya. Terkadang saya merasa tidak bertanggung jawab sebagai guru. Tapi apalah daya saya hanyalah guru pengganti. Saya sendiri belum memiliki pekerjaan resmi. Mendapat kesempatan di interview perusahaan merupakan kesempatan yang tidak boleh dilewatkan karena perusahaan yang saya lamar saja belum memanggil saya untuk wawancara. 

Yap. Mengikuti seleksi tahap ini merupakan hal yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya kira saya tidak akan pernah berhubungan lagi dengan PT infomedia tepat ketika mereka tidak mengirimkan sms pemberitahuan kepada saya hari rabu sore sedangkan teman-teman saya yang lain dapat smsnya. Hati saya agak sedikit meringis ketika harus menjawab, “tidak” atas pertanyaan “kamu dapat sms dari PT infomedia ga?”. Dari situ saya menyimpulkan bahwa saya tidak lolos seleksi berikutnya. Kemudian pikiran tersebut terbantahkan oleh sms jumat siang itu. 

Hari ini saya pergi ke bandung untuk mengikuti psikotes. Dalam interview sebelumnya, ketika memperkenalkan diri saya menyebutkan bahwa salah satu kelebihan saya adalah “quick learner who learns from last mistakes”. Maka pada tes kali ini saya tiba di infomedia tepat jam 08.00 sehingga saya sempat untuk makan nasi kuning terlebih dahulu. 

Saya duduk dikursi sofa panjang menunggu waktu tes tiba karena bosan sayapun memberanikan diri untuk berkenalan dengan salah satu peserta. Namanya siapa ya…saya lupa. Dia juga jobseeker seperti saya. Dia menceritakan kisahnya yang sudah melamar kemana-mana dan mengikuti berbagai interview dan psikotes tapi allah belum menghendakinya sehingga belum ada perusahaan yang menerimanya. Dia kuliah jurusan kimia di UIN Bandung. Saya salut akan semangatnya yang terus mencari bekerja. Tak lama kemudia seseorang yang bernama awan bergabung dalam obrolan kami. Singkat cerita, ternyata awan ini pernah bekerja di garuda Jakarta sebagai costumer service. Dia menceritakan pengalamannya selama menjadi CSR. Pengalaman pahit yang pernah dia alami adalah disiram oleh penumpang akibat pesawat yang delay. 

Sekitar pukul 10.00 kami memasuki ruangan untuk mengikuti psikotes. Soal psikotes di bagi menjadi beberapa bagian dan setiap bagian ada batas waktu pengerjaannya. 

Pertama. Saya mengerjakan soal berupa bentuk persegi panjang, lingkaran, segitiga dimana saya harus memilih bentuk yang sesuai dengan soal. 

Kedua. Tes kepribadian seperti kuosioner.

Ketiga. Membuat gambar. Ada delapan kotak dengan delapan garis/bentuk yang berbeda di setiap kotak tersebut. Saya harus membuat gambar dari potongan garis/bentuk yang tersedia. Mula-mula saya membentuk garis-garis tersebut menjadi sebuah gambar kemudian saya mengurutkannya dari 1-8. Lalu saya memberi label M (mudah), S (sulit), + (paling disukai), - (paling tidak disukai) pada salah satu gambar. Jika diurutkan gambar tersebut yaitu (1) Orang tua naik haji <S>, (2) pergi ke jepang <+>, (3) Investasi emas <M>, (4) Membeli rumah di daerah pegunungan (5) Beli mobil <-> (6) Rumah kontrakan/kos-kosan, (7) Menanam pohon dan (8) setumpuk kertas reksadana. Dari gambar-gambar yang saya buat tadi sangat jelas kemana arah dan tujuan hidup saya. saya begitu semangat merencanakan kehidupan di masa yang akan datang. Saya sedang berusaha menjadi masyarakat yang sadar finansial. 

Keempat. Tes kemampuan bahasa inggris. Matilah saya di tes yang ini karena tes listeningnya sangat tidak terdengar dengan jelas. Selain karena kasetnya yang mungkin sudah lama juga kemampuan bahasa inggris saya yang memang pas-pasan.

Tes terakhir adalah tes Koran. Tes tersebut berupa sederet angka yang memanjang ke bawah. tugas kita adalah menjumlahkan angka bawah dan atas sesuai dengan waktu yang ditentukan. Ketika juri bilang “ganti” maka kita harus pindah ke baris selanjutnya. Barisnya begitu banyak tangan saya pun sudah ingin berkata “saya menyerah. Berhentilah!” saat itu saya merasa sedang bekerja di bawah tekanan dimana saya harus menyelesaikan tugas itu sementara kemampuan dan sisa tenaga saya sudah diambang batas. 

            Tes pun berakhir petugas psikotesnya bilang 3 hari kemudian akan diberitahu lagi mengenai teknis selanjutnya. Tes yang baru saya ikuti adalah interview HR, psikotes dan satu lagi yang belum adalah “interview user”. Ada hikmah juga kenapa sampai saat ini saya belum interview user mungkin saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mempersiapkan interview ini dengan baik. 

Tapi apapun yang terjadi rencana allah lah yang terbaik. Saya serahkan segala usaha saya kepada allah. Dan sebaiknya kita selalu berprasangka baik terhadap apa yang belum terjadi. Saya yang telah menyimpulkan bahwa saya gagal dalam interview HR ternyata diundang untuk mengikuti psikotes di beberapa hari selanjutnya. Katanya sih, karena disesuaikan dengan jumlah orang dan terbatasnya ruangan sehingga psikotes tidak bisa dilakukan pada hari yang bersamaan pada semua kandidat. Puji syukur ke hadirat allah yang maha kuasa yang telah memberikan saya kesempatan untuk hari ini. Keep positive thinking!